Bagaimana Orang Berfikir?
Saya termasuk orang yang pendiam, terbiasa berbicara dengan pelan dan tidak terlalu ramai, pada kondisi tertentu saya mendengar orang yang sering berbicara keras yang seakan-akan tidak ada orang lain yang mendengar suaranya maka saya membayangkan andaikan orang itu bisa berbicara dengan pelan pasti nyaman situasinya. Di lain waktu saya juga memimpikan bisa mendengar suara lembut dan enak untuk di dengar tetapi dengan intonasi yang jelas. Hal-hal itu saya lakukan untuk menghindari realitas yang ada atau untuk menenangkan fikiran saya yang bertentangan dengan realitas tersebut. Nah cara berfikir saya seperti itu bisa disebut menghayal, melamun, fantasi, berfikiratau disebut dengan berfikir autistik. Dengan berfikir autistik orang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar – gambar fantastis.
Selain berfikir autistik ada lagi berfikir realistik di sebut juga nalar (reasoning), ialah berfikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L Ruch menyebut 3 macam berfikir realistik yaitu: deduktif, induktif, dan evaluatif (Ruch, 1967:336).
- Berfikir deduktif ialah mengambil kesimpulan dari dua peryataan; yang pertama merupakan pernyataan umum. Dalam logika, ini disebut silogisme. Contohnya ialah; "Semua manusia bakal mati". "Anggodo manusia". "Jadi, Anggodo bakal mati." Berfikir deduktif dapat dirumuskan, "Jika A benar, dan B benar, maka akan terjadi C." Jika semua mahasiswa belajar di perguruan tinggi, dan cahpct mahasiswa, maka pasti cahpct belajar di perguruan tinggi. Dalam berfikir deduktif, kita mulai dari hal -hal yang umum pada hal-hal yang khusus.
- Berfikir Induktif sebaliknya, dimulai dari hal-hal yang khusus dan kemudian mengambil kesimpulan umum; kita melakukan generalisasi. Saya bertemu dengan cahpct, mahasiswa FIKOM. Ia pandai bicara. Sya berjumpa dengan apip, galih, yeri; semuanya anak FIKOM pandai bicara. Ketepatan berfikir induktif bergantung pada memadainya kasus yang dijadikan dasar. Misalnya, apakah lima orang mahasiswa FIKOM cukup untuk dijadikan sampel yang representatif.
- Berfikir evaluatif ialah berfikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berfikir evaluatif, kita tidak menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainya menurut kriteria tertentu.
Daftar pustaka
Psikologi komunikasi, Drs. Jalaludin Rakhmat, M.Sc. Hal 67-68







