Karyawan sebagai duta besar: strategi public relations dalam konteks HR (I)

KARYAWAN DAN KOMUNIKASI DUA ARAH

2wayFleksibilitas diharapkan dari orang-orang dalam organisasi telah memunculkan kembali akan pentingnya peran sentral dari hubungan karyawan berdasarkan komunikiasi simetris. Hal ini meliputi apa yang dulu disebut sebagai manajemen partisipatif.

Isu-isu penting yang dihadapi para spesialis public relations yang bekerja dalam organisasi dapat diselesaikan dengan memahami model-model strategis dan memikirkan manajemen sumber daya manusia. Beberapa model HR telah berpindah dari retorika atau ideologi ke realitas di tempat kerja tanpa intervensi para pakar komunikator.

Para spesialis yang bekerja dalam sebuah organisasi perlu memastikan bahwa mereka memiliki otoritas dan pengaruh yang cukup untuk memastikan bahwa rencana-rencana strategis dan kebijakan berjalan dengan baik, mulai dari CEO sampai individu-individu pada semua tingkatan dalam organisasi. Direktur PR  yang bekerja sama dengan CEO dan sebagian orang yang memiliki pengetahuan penuh mengenai kultur dan sistem nilai organisasi , mampu mengidentifikasi setiap perubahan yang diperlukan agar sistem dapat mencapai misi. Dengan melihat rencana strategis, tim public relations menilai implikasi dari rencana tersebut bagi struktur public relations, proses, dan sumber daya. Penilaian atas alat dan teknik diperlukan untuk memotivasi staf, mempertahankan keterampilan kunci, dan memastikan kompetensi bagi kemajuan produktivitas, kinerja dan komitmen melalui IT, berita berkala, penghargaan, pesan – pesan yang ditargetkan secara ahli, dan tekhnik-tekhnik lainnya merupakan bagian normal dari penilaian utama bersifat melengkapi strategi public relations dan seringkali memerlukan manajer senior public relations untuk berkerja sama secara erat dengan manager HR terutama dibidang hubungan karyawan dan perselisihan kolektif.

Dengan meningkatnya organisasi virtual dan keharusan untuk berhubungan dengan karyawan sebuah organisasi global yang berada jauh, keperluan untuk mengendalikan dari pusat memerlukan penanganan yang ahli dan sensitif jika tidak ingin mengkorupsi nilai-nilai yang menjadi dasar sebagaian besar perusahaan di barat. Dalam hal kultur , sistem komunikasi korporasi menjadi bagaian dari strategi bisnis inti korporasi yang mengikat keutuhan organisasi.

Perencanaan HR strategis, pembuatan kebijakan, dan praktik cenderung memperdebatkan masalah seperti perekrutan  dan pemilihan, penilaian kinerja, kompensasi pengukuran, pelatihan dan pengembangan, kelanjutan dan profil karier, desain pekerjaan, serta evaluasi. Hal – hal di tersebut  dianggap sebagai aktivitas pendukung  yang penting untuk mengoperasionalkan strategi korporsi, tetapi HR sering gagal mengidentifikasi kontribusi komunikasi bagi sumber daya yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan perubahan yang konstan. Seorang praktisi public relations yang berpengalaman dapat berargumen bahwa karena inilah mengapa begitu banyak program perubahan berskala besar, termasuk perekayasaan ulang proses bisnis dan program manajemen mutu total, mengalami kegagalan. Peran public relations dalam membantu organisasi untuk mengubah dan mempertahankan perilaku baru selalu di remehkan.

Ada banyak kompetensi kunci bagi strategi manajemen sumber daya manusia yang terintegrasi dengan bidang-bidang kunci tempat public relations biasanya banyak di butuhkan. Kedua spesialis mungkin saling berbagi kepemimpinan yang baik melalui aplikasi misi organisasional yang jelas, pengelolaan orang yang kompeten, keterampilan, kemampuan dan pengetahuan melalui pengumpulan modal intelektual, pemonitoran dan pengukuran informasi untuk memastikan bahwa tiap-tiap kelompok mengidentifikasi dan memiliki informasi yang sesuai dengan fungsi mereka serta pencapaian misi; dan pemeliharaan kultur yang memberikan kontribusi pada sistem terbuka dimana orang merasa mampu mengatakan apa yang mereka rasakan jika ini demi kepentingan tanggung jawab mereka dan dapat menawarkan potensi pertumbuhan dan pembangunan.

 

Leave a Reply


Back to Top ↑