Berpikir kreatif, seringkali kata ini di dengungkan olah pakar – pakar motivasi ataupun komunikasi, tak lupa di berbagai acara seminar sering di lantunkan. Apa sih sebenarnya berfikir kreatif itu ?
Untuk mengerti dan memahami apa yang di maksud berfikir kreatif tepat kiranya merunut pendapat James C.Coleman dan Coustance L Hammen (1974:452), berfikir kreatif adalah= " berfikir bagaimana menemukan metode baru, konsep baru, pengertian baru, penemuan baru, seni bekerja baru".
Berfikir kreatif diperlukan banyak orang dari komunikator yang ulung yang mesti mendeain pesan yang ingin di sampaikan, arsitek yang mau membangun gedung, desainer web yang ingin membuat website yang menarik, blogger yang ingin mendatangkan trafik, praktisi PR yang bisa mengikuti perkembangan teknologi terkini, sampai bagaimana menangani gempa yang sedang terjadi di HAITI saat ini.
Untuk berpikir kreatif itu ada syaratnya :
Kreativitas melibatkan respons atau gagasan yang baru, atau yang secara statistika sangat jarang terjadi. Tetapi kebaruan saja tidak cukup. Seorang ahli mesin mobil mencipatakan mobil terbang ini sangat berguna bagi kediupan di jakarata yang macet tetapi harganya yang mahal sangat sedikit jadinya orang yang bisa menggunakan. Hal ini bagus tapi jadi sukar di lakukan.
Kreativitas mesti bisa memecahkan persoalan secara nyata, jadi tidak hanya bahasa retorika saja. Mesti bisa di buktikan nyata dan memang berguna.
Kreativitas merupakan usaha untuk mempertahankan wawasan yang asli, serta menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin. ( Mackinnon, 1962:485
Daftar pustaka: Psikologi Komunikasi Edisi Revisi 1998, Drs. Jalaludin Rakhmat, M.Sc. hal 74- 75
Internet mempunyai kemampuan untuk menciptakan, mengadopsi dan merubah hubungan serta meningkatkan public relation dialogis dua arah jika berhasil diintegrasikan pada web.
Theories are maps of reality. Teori adalah peta dari kenyataan atau realitas. Ibarat kita sedang memasuki sebuah kawasan yang belum kita ketahui, maka kita memerlukan sebuah peta guna menghindari kemungkinan untuk tersesat di jalan. Secara sederhana itulah manfaat sebuah teori. Teori adalah sebuah panduan guna menapaki sebuah perjalanan, dalam hal ini perjalanan kita dalam mendalami ilmu komunikasi.
Teori adalah pilar utama ilmu pengetahuan. Melalui teori, ilmu komunikasi menjadi terus hidup, dan terus berkembang, dalam sebuah siklus sirkuler yang terus menerus.
Teori menciptakan pertanyaan atau permasalahan tentang suatu realitas. Dari suatu permasalahan kemudian memicu terjadinya berbagai macam penelitian atau observasi untuk mencari suatu jawaban dari pertanyaan atau permasalahan tersebut. Hasil dari observasi atau penelitian pada akhirnya mencetuskan suatu teori, yang pada nantinya teori ini dapat mengembangkan ilmu itu sendiri, dibantah, digugurkan, atau menciptakan berbagai pertanyaan atau permasalahan keilmuan yang lainnya.
Teori bukan sekedar sebuah penjelasan semata. Lebih dari itu teori merupakan sebuah cara pandang bagaimana kita melihat suatu fenomena, melihat realitas, dan bagaimana kita memahami realitas tersebut.
Empat Elemen Dasar Teori:
Philosophical assumption, or basic beliefs that underlie the theory
Concept, or building blocks,
Explanations, or dynamic connections made by the theory
Principles, or guidelines for actions
Teori memiliki asumsi filosofis. Artinya, tiap-tiap teori melihat suatu persoalan dalam sudut pandang filsafat tertentu. Dalam teori komunikasi, tiap teori komunikasi artinya memiliki penilaian filosofis tertentu terhadap satu fenomena komunikasi yang dibahasnya. Dan bisa jadi satu fenomena yang sama dapat dilihat secara berbeda-beda tergantung bagaimana teori tersebut melihat dari sudut pandang filosofis yang mana.
Teori memiliki konsep atau kerangka yang membangunnya. Satu teori pada adasarnya dibangun atas sejumlah konsep. Jika teori dilihat sebagai sebuah paragraf, maka konsep- ini adalah kalimat yang dirangkai menjadi sebuah paragraf. Sederhananya seperti itu.
Teori memiliki penjelasan. Maksudnya adalah, teori memiliki sejumlah konsep. Yang mana kemudian konsep-konsep tadi juga berperan untuk menjelaskan tentang apa-apa yangdimaksudkan di dalamnya. Teori oleh karenanya harus mampu untuk menjelaskan apa yang dimaksud oleh teori itu sendiri. Harus mampu untuk menjabarkan dirinya sendiri.
Teori juga seringkali memiliki prinsip-prinsip atau semacam petunjuk bagaimana tata cara penerapan dari teori tersebut. Ini semacam ‘petunjuk praktis’ atau tuntutan bagaimana penerapan suatu teori pada praktik di lapangannya. Akan tetapi, tidak semua teori memiliki kaidah semacam ini.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan teori komunikasi? Sasa Djuarsa mendefinisikan teori komunikasi sebagai “konseptualisasi atau penjelasan logis tentang fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia.” Peristiwa yang dimaksud, mencakup produksi, proses, dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Daftar Pustaka:
Griffin, Emory A., A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill, 2003
Djuarsa Sendjaja, Sasa, et.al. Teori Komunikasi, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004
Salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar dan bersifat esensial adalah kebutuhan akan informasi. Informasi ini memberikan banyak makna bagi manusia, selain dapat mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya, juga dapat mencerdaskan kehidupan, memperluas cakrawala pandangan, dan dapat meningkatkan kedudukannya di tengah masyarakat.
Salah satu unsur penting yang berperan dalam penyebaran informasi adalah pers. Pers dapat menyampaikan informasi kepada sejumlah besar khalayak dalam waktu yang singkat. Pers yang berfungsi sebagai penyebar informasi dapat berperan dalam menyampaikan kebijaksanaan dan program pembangunan kepada masyarakat. Di samping itu masyarakat juga dapat menggunakan pers sebagai penyalur aspirasi dan pendapat serta kritik (control social).
Bagi masyarakat, pers adalah pengamat, forum, dan guru (Wilbur dalam rachmadi, 1990: 3). Hal ini berarti pers itu setiap harinya memberi laporan, ulasan mengenai berbagai kejadian, baik di dalam atau pun luar negeri, menyediakan forum bagi masyarakat untuk mengeluarkan pendapat secara tertulis, dan turut mewariskan nilai-nilai kemasyarakatan dari generasi ke generasi.
Maka sebagai institusi sosial, pers tidak dapat melepaskan diri dari masyarakat, karena dia hidup dan beroperasi ditengah-tengah masyarakat.
Sejarah Kebebasan Pers di Indonesia
Di Indonesia sendiri pengekangan pemerintah terhadap pers dimulai tahun 1846, yaitu ketika pemerintahan kolonial Belanda menghapuskan adanya surat ijin atau sensor atas penerbitan pers di Batavia, Semarangdan Surabaya. Sejak itu pendapat tentang kebebasan pers terbelah. Satu pihak menolak adanya surat ijin sensor dan terbit dan pembredelan, namun di pihak lain mengatakan bahwa kontrol terhadap pers perlu dilakukan. Pemerintah kolonial kemudian menanggalkan sejumlah aturan yang dibawa ke alam kemerdekaan. Aturan tersebut seperti Druckpers Reglement (UU pers) yang dikeluarkan tahun 1854 , Haatzai Delicten (UU hukum pidana komunikasi massa) tahun 1956 ataupun Persbreidel Ordonnatie yang dikeluarkan thn 1931. Isinya jelas kontrol tehadap pers. Meski telah dihapus dengan UU no 23 1954, pers Indonesia tidak berarti terbebas dari pemasungan.
Tahun 1952, dua surat kabar dibredel, Merdeka dan Berita Indonesia. 14 Maret 1957 terjadi penutupan tiga kantor berita dan pembredelan 10 surat kabar dan penahanan tujuh wartawan. Permenpen 01/ 1984 pasal 33 menghadirkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) hal ini semakin melestarikan kekangan terhadap pers. SIUPP merupakan lembaga yang menerbitkan pers dan pembredelan.
Perubahan kekuasaan tahun 1998 dari orde baru ke orde reformasi membuat pers menemukan kemerdekaannya. Menteri Penerangan saat itu mencabut pemberlakuan SIUPP. Sejak titik balik inilah maka pers Indonesia dapat mengabarkan berita secara transparan tanpa kekhawatiran SIUPP yang akan dicabut. Dengan dihapusnya SIUPP beberapa media yang mati kini hidup kembali.
Tahun 1999, Departemen Penerangan dihapuskan, hal ini berarti pers punya hak untuk menyebarkan informasi yang bebas dari sensor melalui bentuk media manapun.
(Kompas, 9 Febuari 2009)
Konsep Kebebasan Pers di Indonesia
Berikut adalah beberapa konsep kebebasan pers di indonesia menurut Rachmadi (1990: 68-25) :
Presiden Soeharto dalam pidato peresmian gedung monument pers di Solo yang pada intinya mengatakan bahwa kebebasan sebagai suatu upaya yang bertujuan untuk menjaga hubungan antara pemerintah dengan masyarakat, terutama untuk melindungi masyarakat dari isu-isu yang dapat meresahkan.
Ki Hajar Dewantoro: kebebasan seseorang diakui sejauh tidak mengganggu kebebasan orang lain
UUD 45 pasal 28: kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang.
UU Pokok Pers Nomor 11 tahun 1966 yang telah disempurnakan menjadi Undang-Undang nomor 4 tahun 1967 dan Undang-Undang nomor 21 tahun 1982.
Pasal 3: pers mempunyai hak kontrol, kritik dan koreksi yang bersifat korektif dan konstruktif
Pasal 4: terhadap pers nasional tidak dikenakan sensor dan pembredelan
Pasal 5: (1) kebebasan pers sesuai dengan hak asasi warga Negara dijamin
(2) kebebasan pers ini didasarkan atas tanggung jawab nasional dan
pelaksanaan pasal 2 dan 3 Undang-Undang ini.
keputusan Dewan Pers no 79/XIV/1979 tentang pedoman pembinaan idiil pers: “dalam alam pembangunan, kebebasan pers perlu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab terhadap stabilitas nasional, keamanan dan keterlibatan umum. Kebebasan pers perlu juga dilaksanakan dengan landasan-landasan sikap yang dewasa dan dalam suasana harmoni terhadap lingkungan, sehingga merangsang tumbuhnya kreatifitas masyrakat dan tidak tidak sebaliknya menimbulkan ketegangan-ketegangan yang bersifat antagonistis”
Pasal 2 ayat (1) dan (2) Kode Etik Wartawan :
Pasal 2
(1)wartawan indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan perlu/ patut tidaknya suatu berita, tulisan, gambar, karikatur dan sebagainya disiarkan
(2)wartawan Indonesia tidak menyiarkan :
a.hal-hal yang sifatnya destruktif dan dapat merugikan Negara dan bangsa
b.hal-hal yang dapat menimbulkan kekacauan
c.hal-hal yang dapat menyinggung perasaan susila, agama, kepercayaan atau golongan yang dilindungi oleh Undang-Undang.
Batasan oleh William Ernest Hocking “kebebasan” mengandung arti shared responsibility, yaitu pihak-pihak yang tersangkut dalam kebebasan pers, yaitu pers dan publik.
Dalam demokrasi Pancasila menuntut adanya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Dalam demokrasi Pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak, tetapi harus diselaraskan dengan tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.
Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999
UU Pokok Pers Nomor 11 tahun 1966 yang telah disempurnakan menjadi Undang-Undang nomor 4 tahun 1967 dan Undang-Undang nomor 21 tahun 1982, dirasa sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Maka pada 23 september 1999, Presiden BJ Habibie mensahkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 40 tahun 1999 tentang Pers di Indonesia. (terlampir)
Isi dari Undang-Undang ini menegaskan kembali tentang ketentuan umum mengenai pers, asas, fungsi, hak, kewajiban dan peranan pers, pengaturan tentang wartawan, perusahaan pers, dewan pers, serta pers asing di indonesia.
Sesuai dengan pasal 28 UUD 1945bahwa negara menjamin kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, maka agar fungsi pers berjalan secara maksimal dibuatlah undang-undang tentang pers ini.
Kebebasan Pers yang Kebablasan
Pers yang bebas merupakan salah satu komponen yang paling essensial dari masyarakat yang demokratis, sebagai prasyarat bagi perkembangan sosial dan ekonomi yang baik.
Setelah rezim orde baru 1998 jatuh, kehidupan pers Indonesia memasuki era kebebasan yang nyaris tanpa restriksi (pembatasan), bebas tanpa ada lagi batasan-batasan dari kebijakan pemerintah. Pers yang bebas sangat penting dan fundamental bagi kehidupan demokratis. Sekalipun bisa diakui bahwa pers yang bebas bisa baik dan buruk. Pers bebas menjadi buruk bila kebebasan pers yang dimiliki pengelolatidak disertai peningkatan kemampuan professional, termasuk di dalamnya professional ethics (Jacob Oetomo, 2001 dalam kompas 9 Febuari 2009). Kebebasan pers saat ini tidak hanya menumbuhkan ratusan penerbit baru tetapi juga menimbulkan kebebasan pers yang anarkis. Kebebasan pers telah meghadirkan secara telanjang segala keruwetan dan kekacauan. Publik bisa menjadi leluasa membaca dan menyaksikan pola tingkah public figure. Hampir tidak ada lagi rahasia atau privasi. Tabloid-tabloid yang sangat saratdan foto pornografi sangat marak. Judul-judulnya pun sensasional, menakutkan dan bahkan menggemparkan.
Pornografi dalam Media
Burhan Bungin secara garis besar membagi wacana porno ke dalam beberapa bentuk porno, yaitu pornografi, pornoteks, pornosuara, dan pornoaksi. Dalam kasus tertentu semua kategori ini dapat menjadi sajian dalam satu media, sehingga konsepnya menjadi pornomedia. Pornografi adalah gambar-gambar porno yang dapat diperoleh dalam bentuk foto dan gambar video. Pornoteks adalah karya pencabulan yang mengangkat cerita berbagai versi hubungan seksual dalam bentuk narasi, testimonial atau pengalaman pribadi secara detail atau vulgar, sehingga pembaca merasa ia menyaksikan sendiri, mengalami atau melakukan sendiri peristiwa hubungan-hubungan seks itu.
Pornosuara yaitu, suara atau tuturan dan kalimat-kalimat yang diucapkan seseorang yang langsung atau tidak langsung, bahkan secara halus atau vulgar tentang objek seksual atau aktivitas seksual, sedang pornoaksi adalah suatu penggambaran, aksi gerakan, lenggokan liukan tubuh yang tidak disengaja atau sengaja untuk memancing bangkitnya nafsu seksual. Pornoaksi pada awalnya adalah aksi-aksi objek seksual yang dipertontonkan secara langsung dari seseorang kepada orang lain, sehingga menimbulkan histeria seksual di masyarakat. Dalam konteks media massa, pornografi, pornoteks, pornosuara dan pornoaksi menjadi bagian yang saling berhubungan dengan karakter media yang menyiarkan porno itu. Namun dalam banyak kasus, pornografi (cetak) memiliki kedekatan dengan pornoteks karena gambar dalam teks dapat dilakukan dalam satu media cetak.
Pornografi dalam Pandangan Pers yang Bebas dan Bertanggung jawab
Menurut Masduki dalam buku kebebasan pers dan kode etik jurnalistik menyebutkan bahwa pornografi adalah isu krusial paling tua dalam media massa. Pro kontra tak pernah usai karena sulitnya membuat kategori pornografi dalam karya media. Masing-masing bersandar pada konteks (1) lokasi konsumen media dan lokasi rubrik pemuatan (2) kultur setempat dan jenis media (3) waktu penerbitan atau penyiaran (4) status sosial dan pendidikan konsumen sasaran media (5) umur. Yang disepakati adalah bahwa pornografi dapat merusak moral pembaca awal. Dalam media pers, pornografi muncul dalam tiga bentuk (1) visual berupa gambar mati dan hidup (2) suara dari siaran radio dan televisi (3) teks yang didalamnya sarat kosakata konotatif.
Segala tindakan media sebagai ruang publik dapat dianggap pornografi ketika (1) menampilkan sesuatu yang bersifat privat, wilayah pribadi ke wilayah publik dengan ijin atau tanpa ijin pemiliknya (2) penampilan itu menimbulkan rangsangan negatif, nafsu birahi bagi konseumennya dan (3) melanggar kesopanan yang berlaku di lokasi konsumen media penikmatnya.
Pornografi dapat terjadi pada tiga wilayah isi media. Pertama gambar yang menyajikan perempuan yang berpakaian seronok, lokasi pengambilan gambar yang mendukung seperti tempat pelacuran, kamar pribadi, pose perempuan yang menantang birahi dan fokus pengambilan gambar pada alat kelamin atau kemaluan. Kedua pada kata-kata yang dipakai untuk mendeskripsikan proses adegan pornografi, metafora sensual seperti menggairahkan”, penyebutan alat kelamin atau wilayah seks secara dominan, deskripsi seks yang dirasakan dalam proses seksual dan stereotype seperti banal, liar, dll. Ketiga suara, ini terutama untuk media radio dan tv, misalnya rintihan kenikmatan, teriakan dan jenis-jenis suara yang menimbulkan efek imajinasi seksual tertentu.
Berikut adalah beberapa jenis kasus berita yang termasuk dalam pornografi media gambar dan kata-kata, yang diulas oleh Nurul Ilmi Idrus dalam Jurnal Perempuan (Pronografi dalam Pemberitaan, 2004: 35-36). Kasus pemberitaan pembunuhan bidan Satirah di Kotamadya Pare-Pare, yang dibunuh pada tanggal 27 September 2000 yang diduga dibunuh oleh suaminya sendiri (Fajar, 16Oktober 2000). Atas desakan keluarga almarhum, dua minggu setelah bidan Satirah dikuburkan, kuburannya digali untuk keperluan otopsi. Irosnisnya otopsi dilakukan siang hari, di tempat terbuka, ditutupi dengan tenda seadanya, ditonton sekitar 200-an orang dan mayat dalam keadaan telanjang bulat. Foto bidan satirah dipajang di harian Fajar dengan posisi kemaluan (vagina) mengahadap ke kamera. Dari sini kita dapat melihat bahwa pers menggunakan gambar untuk membuat nilai jual dari berita tersebut. Bahwasanya Bidan Satirah tidak hanya menjadi korban pembunuhan, tetapi juga menjadi korban dari pemberitaan media yang mengekspos kasus tersebut. Terdapat juga kasus-kasus pemberitaan yang tidak sesuai antara judul dengan gambar yang dimuat.
Judul dan Tanggal Terbit
Gambar yang ditampilkan
Minta Berhenti Sekolah (16 Juni 2000)
Perempuan dengan dada separuh telanjang
Suami Saya Bawa Lari Uang Guru ( 4 Juli 2000)
Perempuan muda berpakaian renang dengan mimik terangsang
Upah Suami Dipakai Ongkosi Perempuan (5 Agustus 2000)
Perempuan setengah telanjang
(Berita Kota (Makasar), Rubrik Sajang Rennu, dalam Nurul Ilmi Idrus)
Kesan yang ditampilkan pada tabel di atas adalah bahwa gambar yang sensual digunakan sebagai unsur daya tarik pemberitaan semata.
Kedua kasus tersebut adalah contoh berita yang termasuk dalam pornografi media berupa gambar. Contoh lainnya adalah judul utama pada berita kasus perkosaaan: ”Adik Kandungpun Digarap Hingga Hamil” dan subjudul yang dikutip dari perkataan korban: ”Sudah Beberapa Kali Saya Digauli”. Nilai jual berita tidak hanya dilihat dari gambar tapi dari pemakaian kata-kata untuk judul. Kata ’digarap’, ’digauli’ mengungkapkan bentuk ketidakberdayaan korban, dalam hal ini perempuan. Kata-kata yang dipilih oleh si penulis berita semakin menambah beban psikologis korban, dengan kata lain pemberitaan media merupakan pemerkosaan kedua atau pemerkosaan mental terhadap korban setelah diperkosa secara fisik. Berikut adalah contoh media lain yang dianggap berbau pornografi.
Majalah Popular sebagai Media yang diaanggap menjual pornografi dan pornoteks. Majalah popular adalah salah satu dari industri media massa cetak yang mengkhususkan diri untuk dikonsumsi pria. Popular sebagai majalah pria eksis dalam kurun 16 tahun, telah mengalami perubahan konsep. Awal mulanya popular adalah majalah hiburan dan sport, namun dalam perjalanannya konsep tersebut disesuaikan dengan dinamika masyarakat, yaitu konsep yang memadukan estetika, tekhnik foto, dan keindahan modelnya serta background pemotretan. Isi pemberitaan majalah popular mengangkat tema seks, kehidupan seks dan kehidupan malam di kota-kota besar di indonesia dan tempat wisata di manca negara. Beberapa angel yang berisi liputan atau pemberitaan yang mengangkat seks yaitu liputan malam, liputan khusus, hilight dan sekse. Konsep ini saja sesuai dengan penjelasan bungin di atas, bahwa media ini sudah termasuk dalam kategori pornografi dan pornoteks. Pornografi terlihat jelas pada gambar-gambar wanita yang berpakaian sangat minim dan dalam pose-pose yang menantang. Pornoteks dapat kita jumpai pada pemakaian kata-kata, contohnya dalam salah satu rubrik liputan malam:
”Mata diko, ferdi dan hendrik jelalatan memperhatikan wanita-wanita….. Pebisnis-pebisnis muda ini memang sangat menyukai wanita-wanita cantik. Tidak jarang ketiganya terlibat petualangan sesaat dengan kaum hawa penggoda. Ketampanan dan materi yang melimpah jadi modal yang cukup.”
Tampak pada penggalan bahwa budaya kerja maskulin dimana laki-laki digambarkan sebagai pebisnis yang merupakan simbol pemilik uang, sedang wanita sebagai tanda komoditi.
Kesimpulan
Media-media yang beredar saat ini banyak memanfaatkan pornografi dan pornoteks sebagai nilai jualnya. Sebagai contoh pada kasus-kasus di atas yang berkaitan dengan norma, moral agama serta norma masyarakat. Hal-hal inilah yang perlu diindahkan oleh para pers agar kebebasan pers menjadi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh dewan pers tanggal 11 oktober 2001, bahwa secara prinsip pornografi dan kecabulan tidak masuk dalam kategori pers. Pers menyiarkan informasi yang berkaitan dengan wilayah kepentingan publik, sedang pornografi dankecabulan terkait dengan wilayah privat atau personal.
Pelanggaran sosial pornografi dan kecabulan sesungguhnya telah diatur dalam KUHP pasal 282 sebagai bentuk pelanggaran kesusilaan yang berbunyi: mempertunjukkan atau menempelkan di depan umum, tulisan, gambar yang diketahui isinya melanggar kesusilaan diancam hukuman penjara maksimal 18 bulan. Dalam kode etik wartawan indonesia disebutkan bahwa wartawan indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis dan pornografi.
Daftar Pustaka
Burhan Bungin. Pornomedia Konstruksi Sosial Tekhnologi Telematika dan Perayaan Seks di Media Massa. Bogor: Kencana. 2003
F. Rachmadi. Perbandingan Sistem Pers, Analisis Deskriptif Sistem Pers di Berbagai Negara. Jakarta: PT Gramedia, 1990
Harian Kompas. 9 Febuari 2009
Masduki. Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Jogjakarta: Uli Pers. 2009-11-23
Nurul Ilmi Idrus. Pornografi dalam Pemberitaan. (dalam Jurnal Perempuan). Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2004
www.kompas.com/agenda/keperluan mengubah UU no 40 tahun 1999/ selasa 18 Juni 2002
Strategi komunikasi di Railtrack menjadi fokus setelah perusahaan ini diprivatisasi pada tahun 1997. Di perlukan revisi-revisi yang utama untuk memastikan keberhasilan perubahan jangka panjang dan jangka pendek oleh manajemen dan karyawan pada setiap tingkat.
Poin-poin kunci
Strategi komunikasi menunjukkan signifikasi dari public relations dalam proses perubahan
Strategi komunikasi mencerminkan pentingnya scanning internal untuk mengidentifikasi audiens kunci, sub audiens dan peralatan yang diperlukan untuk memastikan bahwa sebuah pendekatan yang koheren dan terintegrasi tetap dipertahankan.
Strategi komunikasi menunjukkan bagaimana strategi public relations merupakan komponen inti dari strategi korporsi.
RAILTRACK PLC
Permasalahan
Pada pertengahan tahun 1997, Railtrack plc, perusahaan infrastruktur kereta api di Inggris, berdiri berdasarkan peristiwa yang terjadi di London Stock Market. Ketika perusahaan ini terus menyesuaikan diri dengan hubungan bisnis pasca privatisasi dalam sebuah lingkungan publik yang bersemangat, regulatory, dan pengamatan politis yang cermat, perhatian Railtrack plc terfokus pada peningkatan kinerja dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumen yang semakin vokal. Selain itu, tantangan yang dihadapi ketika memastikan kesehatan ekonomi setelah review atas regulatory yang akan datang pada bulan april 2001 merupakan prioritas yang membayangi.
Pada tahun 1997, Railtrack menyatakan kepada publik sebuah komitmen untuk menginvestasikan 17 miliar (naik menjadi 27 miliar pada tahun 1999), yang didanai melalui pinjaman, guna memperbaiki infrastruktur rel kereta api selama 10 tahun mendatang. Untuk setiap 10 juta yang di galang, 1 juta dari laba yang diperoleh harus dipergunakan untuk mengamankan pinjaman. Oleh karena itu, secara internal hal yang paling mendesak adalah berfikir secara komersial, bukan hanya sekedar beroperasi. Belum pernah terjadi sebelumnya karyawan menganggap hal itu sebagi dasar ekonomi dari bisnis komersial, serta membuat keputusan harian dan keputusan jangka panjang berdasarkan sikap tersebut.
Penelitian
Untuk membantu tim korporasi, Railtrack memperkerjakan Hedron Consulting Ltd, spesialis komuniksi internal. Konsultan ini memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman dari perusahaan dan industri lain, baik di Inggris maupun di luar Inggris yang dapat di pelajari oleh Railtrack. Pihak Hedron bekerja dengan tim komunikasi internal yang sudah ada (berjumlah tujuh orang yang tersebar di tujuh zona di inggris – beberapa di antaranya pekerja paruh waktu) untuk mengembangkan dan menerapkan strategi komunikasi internal korporasi yang difokuskan secara komersial. Selain itu, Hedron juga harus memperkuat tim internal kantor pusat, yang akan menjadi ujung tombak penerapan komunikasi internal. Dasar pemikiran awalnya adalah dari pengalaman organisasi lain, yang organisasi akan memandang komunikasi internal sebagai bagian kunci dari proses manajemen yang dapat mendorong atau merongrong tujuan komersial bisnis dan bukan memandang sebagai aktivitas yang 'terasa enak untuk di lakukan' atau 'baik untuk di lakukan'.
Untuk melaksanakan pendekatan ini, tim harus mengidentifkasi tujuan bisnis kunci dan mempelajari bagaimana tujuan tersebut terkait dengan perilaku orang dalam keseharian. Tim mengidentifikasi dengan menganalisis bisnis inti dan rencana-rencana operasional serta laporan (beberapa di antaranya untuk publik, termasuk Network Management Statement dan indeks kepuasan konsumen Train Operating Company yang dipubliksikan secara tahunan) dan dengan mewawancarai anggota-anggota kunci dewan. Dokumentasi rencana bisnis internal yang sangat sensitif menentukan tujuan bisnis inti yang harus didukung oleh komunikasi internal dan hal ini disetujui oleh tim peneliti serta manajemen puncak.
Kegagalan komunikasi antara apa yang diperlukan dan apa yang ada akan muncul ketika jalannya praktik komunikasi yang 'bagus' mulai diukur. Keefektifan dinilai dari peran yang dapat dimainkan komunikasi dalam mendukung pencapaian tujuan bisnis dengan memastikan bahwa keefektifan tersebut diketahui dan setelah itu dipahami. Data yang dianalisis termasuk dua survei perilaku karyawan, audit komunikasi internal, dan diskusi dengan HR senior serta para manajer lini dan karyawan yang berada di garis depan.
Perencanaan
Tujuan IC dinyatakan sebagai berikut:
Memastikan bahwa semua staf memahami prioritas tujuan bisnis dan pendorongnya, serta relevansi dari prioritas tersebut bagi keberhasilan perusahaan di masa mendatang.
Membantu karyawan memahami tujuan bisnis, dan memastikan bahwa karyawan mengerti peran dan kontribusi mereka terhadap pencapaian tujuan tersebut.
Mendorong / memastikan bahwa para manajer dan staf sering menyelenggarakan dialog tentang kinerja: potensi pengembang, hambatan – hambatan, sumber daya, dan proses.
Memberikan proses dan pelatihan sehingga informasi dapat diakses secara lebih mudah dan ditransfer secara lebih cepat ke setiap bagian organisasi untuk mendukung praktik kerja yang efisien.
Strateginya adalah memodernisasi pendekatan komunikasi internal dasar di seluruh bagian perusahaan sehingga dialog tentang bisnis sangat ditekankan. Isi dari komunikasi harus diseimbangkan kembali untuk memberikan "share of vaice" yang lebih besar atas informasi strategis, operasional, dan mendidik mengenai bisnis atau perusahaan.
Konsep "hak" dan "tanggung jawab" manajemen komunikasi akan diperkenalkan untuk mengubah cara memandang komunikasi, membicarakan tentang dan menggunakan orang dalam perusahaan. Hal ini sangat mendasar untuk mengembangkan kultur atau budaya dimana tidak lagi dapat dibenarkan bila karyawan tidak diberitahu atau dianggap tidak perlu mengetahui prioritas komersial bisnis.
Faktor-faktor keberhasilan yang penting harus diidentifikasi. Faktor yang paling menantang adalah memastikan bahwa manajer senior menempatkan nilai-nilai komunikasi internal setingkat dengan nilai-nilai komunikasi eksternal. Para manajer senior itu memandang komunikasi internal sebagai cara untuk memberikan informasi kepada para staf mengenai proses manajemen serta memungkinkan staf mampu membuat penilaian secara komersial.
Penerapan / Implementasi
Pada akhir Oktober 1997, Gerald Corbett, direktur utama, mengumumkan tujuh tindakan inti dengan anggaran sebesar £730.000. Jika, tindakan-tindakan tersebut dikombinasikan akan tercipta sebuah kerangka kerja baru bagi komunikasi, yang memperkenalkan tujuan komunikasi strategis dan reposisi komunikasi internal di Railtrack.
Tindakan Pertama
Pertama, kandidat eksternal Ken Hunter ditunjuk sebagai Kepala Komunikasi Internal untuk mempimpin HQ dan tim setiap cabang serta ujung tombak transformasi. Hal ini penting untuk meningkatkan profil komunikasi sebagai alat memotivasi karyawan dan memperbaiki kinerja.
Tindakan pertama adalah untuk memastikan bahwa informasi dapat mencapai seluruh karyawan (dulunya hanya 65 persen), selama 24 jam kerja dan bukan dua minggu. Kelambanan transfer informasi ini hanya akan melumpuhkan kemampuan organisasi untuk menghadapi isu-isu penting dan berkomunikasi secara cepat dengan karyawan menyangkut hubungan industrial. Dengan menyediakan teknologi dasar tambahan ( telepon/fax) pencapaian naik hampir mendekati 95 persen -staf yang sedang bertugas memiliki akses ke informasi dalam waktu empat jam setelah tindakan diluncurkan. Hasil yang dicapai sangat signifikan. Dewan mengakui kontribusi yang sangat penting dari 'tindakan' pertama dalam mencegah seruan mogok RTM, yang berhasil diterapkan di perusahaan kereta api lainnya. Dewan mampu memberikan informasi kepada karyawan dengan cepat sebelum materi serikat kerja dikeluarkan. Tindakan pertama mampu menjelaskan mengapa tuntutan RTM tak dapat dipertahankan. Para karyawan memahami alasannya dan memilih untuk tidak mogok.
Tindakan Kedua
Tindakan kedua secara signifikan meningkatkan kesempaan bagi para staf untuk melakukan dialog mengenai bisnis dengan para manajer senior. Sebuah program yang radikal dari railshows regional yang dicetuskan oleh CEO dan direktur wilayah menilhat 25 persen staf dari semua tingkat membicarakan arah strategis dari bisnis dan bagaimana hal tersebut terkait dengan tugas sehari-hari mereka. Hal sangat pasti:
91 persen merasa bahwa mereka dapat menghubungkan tujuan mereka dengan tujuan wilayah dan perusahaan mereka
84 persen mengatakan bahwa mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mereka dapat membantu tugas wilayah.
85 persen merasa yakin atas masa depan Railtrack
Mereka yang tidak hadir menerima informasi inti dan poin-poin diskusi melalui media baru.
Tindakan Ketiga
Tindakan ketiga melaksanakan peninjauan kembali yang fundamental terhadap media internal dan menciptakan kerangka kerja media yang memungkinkan karyawan berbagi ilmu dan praktik terbaik, serta memberikan pengetahuan dan konteks untuk memahami mengapa dan bagaimana keputusan dibuat. Kerangka kerja media ini telah menelurkan hasil yang substansial melalui volume dan kualitas dari sesi saling berbagi keberhasilan dan ide-ide penghematan biaya yang telah mereka lakukan. Satu artikel saja menghasilkan £100.000, dengan menekankan pada tim European Affairs sebuah proyek yang layak didanai. Tanpa publikasi hal ini pasti sudah terlewat.
Tindakan Keempat
Tindakan keempat merevisi proses briefing tim untuk mendorong dialog mengenai bisnis pada tingkat tim. Untuk mengatasi kelemahan hierarkhis dan kultural dari proses briefing tim yang ada, sebuah pendekatan yang radikal telah ditempuh. Temtalk dimulai, diubah dan digulirkan ke seluruh negeri. Ditulis dalam prosa oleh CEO atau direktur wilayah yang bersangkutan, teamtalk hanya memfokuskan pada informasi bisnis strategis. Teamtalk melengkapi, tindak menggantikan , briefing lini spesifik. Teamtalk mengunjungi semua karyawan dalam sebuah zona pada saat yang sama, yaitu sebelum pertemuan tim saat arti teamtalk pada tingkat lokal didiskusikan. Teamtalk dapat berdiri sendiri bagi anggota staf yang terisolasi. Pertanyaan-pertanyaan akan diajukan pada karyawan yang dapat mereka jawab secara pribadi maupun secara kelompok. Sejauh ini, umpan balik dan kelompok-kelompok fokus telah menunjukkan bahwa teamtalk diterima dengan baik dan mendorong dialog tentang bisnis. Akan tetapi, para manajer senior belum merespons dengan cukup cepat sehingga melemahkan semangat para karyawan. Para manajer senior telah dikritik karena tidak cukup kontroversial dan menolak untuk mengakui kesalahan. Mereka telah ditantang oleh tim komunikasi internal untuk menangani kritik tersebut.
Tindakan Kelima, Keenam dan Ketujuh
Ketiga tindakan inti lainnya adalah untuk merevisi pertemuan komunikasi manajemen senior, sehingga pertemuan itu menjadi model perilaku komunikasi yang baru dalam organisasi, untuk memperkenalkan sebuah intranet yang memungkinkan karyawan menarik informasi, dan untuk mengembangkan kemampuan tim komunikasi internal dalam menjalankan strategi yang menantang ini, dengan semua keterampilan komunikasi non-tradisional yang dituntut strategi ini. Pengembangan kemampuan tim komunikasi internal untuk menjalankan strategi telah menghasilkan pertumbuhan nilai bahwa komunikator internal semakin banyak diminta untuk ikut serta dalam diskusi inisiatif manajemen kunci guna memberikan nasihat tentang bagaimana komuniaksi dapat membantu.
Evaluasi
Dalam keseluruhan program, evaluasi dilakukan terhadap perkembangan aktivitas komunikasi internal. Hal ini telah memungkinkan pembelajaran dari keefektifan awal untuk mendorong perubahan pendekatan dan pelaksanaannya. Bagian terdahulu merinci bagaimana masing-masing tindakan telah mencapai tujuannya dan memberikan kontribusi pada keseluruhan tujuan komunikasi internal yang strategis. Selain itu, penelitian atau riset yang independen atas manajer senior kunci dan dewan menunjukkan bahwa mereka sekarang melihat tim komunikasi internal memiliki nilai yang signifikan bagi organisasi
Indikasi sejauh ini melalui kelompok fokus yang mengembangkan penelitian berbasis kuesioner, terlihat bahwa ada kemajuan yang berarti dalam mencapai tujuan, Jelasnya, penelitian akan memungkinkan dilakukan penilaian apakah hanya kebetulan bahwa wilayah yang memiliki tingkat kehadiran staf 50 persen di Railshows, yang mendorong banyak tindakan lain dan yang membuat manajer IC nampak seperti penasihat Eksekutif yang terfokus secara komersial, juga merupakan zona denga kinerja terbaik. Namun tim kantong-kantong yang belum cukup dipengaruhi. tim sedang berusaha mengembangkan sebuah strategi dan rencana tindakan selama tahun 2001 dan menekliti bisnis tentang hal-hal yang harus didukung (secara fundamental memikirkan kembali strategi). Tim juga memperkuat hubunganya dengan tim HR yang diubah penampilannya dan yang diperbaharui secara substansial untuk memastikan konsistensi pesan dengan manajemen orang dan proses pengembang
Gerald Corbett mengatakan: Sebagai eksekutif utama saya memerlukan orang-orang dari semua tingkat untuk memahami kemana kita menuju dan mengapa. Jadi sangat penting jika mereka harus mampu memberikan kontribusi yang efektif pada cara kita mengelola bisnis. Komunikasi internal kita sekarang terfokus pada isu-isu bisnis dan sedang mengembangkan sebuah dialog ke atas, ke bawah, dan ke seluruh bagian perusahaan yang sangat penting.
Daftar Pustaka:
Strategi Public Relations, Sandra oliver, Hal 69 – 74
Perubahan berskala besar dari program komunikasi internal harus mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
Perubahan tersebut harus dimulai dari isu-isu penting jangka pendek yang dihadapi dan dipahami oleh para manajer serta tidak dimulai dengan program komunikasi bisnis global dan jangka panjang yang dipublikasikan sebagai dokumen yang tidak sensitif terhadap kebutuhan indiividu.
Perubahan tersebut harus menciptakan pandangan yang realistis mengenai apa yang dapat dicapai dan tidak terlalu mengandalkan pada harapan yang selalu meningkat.
Perubahan tersebut harus menawarkan kesempatan bagi pembelajaran perilaku dan bukan pembelajaran representasional, yaitu perubahan apa yang dapat dilakukan oleh orang dan bukan mendorong pembelajaran melalui penggunaan kata-kata dan bahasa baru untuk meredakan ketegangan antara apa yang dikatakan orang dan apa yang dilakukan orang.
Harus ada keterlibatan penuh dari para manajer di garis depan bukan menciptakan tim proyek yang tidak stabil dan eksklusif yang mengendalikan program tanpa konsultasi dan tanpa penelitian yang memadai.
Perubahan harus terbuka terhadap perubahan tekanan lingkungan dan prioritas.
Perubahan bahkan harus memasukkan orang-orang pragmatis yang berfikir jangka pendek dan jangka panjang, yaitu para pelaku bisnis yang menolak terlibat secara emosional.
Sebuah studi atas tanda perselisihan pekerja di British Rail pada tahun 1994 oleh Crossman dan Mcllwee (1995) mengidentifikasi sembilan bidang kunci di mana public relations akan memainkan peran pentingnya. Kedelapan bidang kunci tersebut adalah kekuatan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya, misi dan strategi, kultur organisasi, cara sumber daya manusia dikelola dalam hal fleksibilitas, kualitas, komitmen dan integrasi strategis, kepentingan stakeholder, dan hubungan masyarakat serta hubungan serikat pekerja.
Menurut Dozier (1992), peranan praktisi PR dalam organisasi merupakan salah stau kunci penting untuk memahami fungsi public relations dan komunikasi organisasi. Peranan praktisi public relations juga merupakan salah satu kunci untuk mengembangan pencapaian profesional dari praktisi public relations.
Dibagi atas dua dasar kategori :
Public Relations Manager
Communication Manager Role
Public Relations Technican
Communication Technican Role
Expert Prescriber : Praktisi PR membantu manajemen dengan pengalaman dan keterampilan mereka untuk mencari solusi bagi penyelesaian masalah public relationship yang dihadapi oleh organisasi.
Communication Facilitator : Praktisi PR membantu manajemen dengan menciptakan kesempatan-kesempatan ‘mendengar’ apa kata public dan menciptakan peluang agar public mendengar apa yang diharapkan manajemen.
Problem –Solving Process Facilitator : Praktisi PR membantu kerja manajemen melalui kerja sama dengan bagian lain dalam organisasi untuk menemukan pemecahan masalah yang memuaskan bagi masalah public relations
Communication Technican : Menyediakan layanan teknis komunikasi untuk organisasi sedangkan keputusan untuk teknis komunikasi yang harus dijalankan ditentukan oleh orang atau bagian lain dalam organisasi.
Perbedaan mendasar kedua peranan ini adalah pada kegiatan praktisi public relations mengambil keputusan di tingkat korporat. Para Teknisi tidak berpartispasi dalam pengambilan keputusan manajemen, sedangkan manager terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut Dozier (1995) : Praktisi yang ingin menjalankan peran manajer humas membutuhkan pengetahuan dasar untuk menjalankan peran itu. Pengetahuan tersebut dari :
Pengetahuan Strategis, berkaitan dengan kemampuan untuk mengetahui bagaimana mengelola kegiatan komunikasi secara strategis dan juga kemampuan untuk mengelola respon organisasi terhadap berbagai masalah dan kemampuan pengembangan sasaran dan tujuan untuk bagian humas.
Pengetahuan Riset, berkaitan dengan kemampuan melakukan penelitian untuk segmentasi publik dan riset untuk evaluasi program.
Pengetahuan dalam menyusun anggaran untuk kegiatan public relations.
Saya termasuk orang yang pendiam, terbiasa berbicara dengan pelan dan tidak terlalu ramai, pada kondisi tertentu saya mendengar orang yang sering berbicara keras yang seakan-akan tidak ada orang lain yang mendengar suaranya maka saya membayangkan andaikan orang itu bisa berbicara dengan pelan pasti nyaman situasinya. Di lain waktu saya juga memimpikan bisa mendengar suara lembut dan enak untuk di dengar tetapi dengan intonasi yang jelas. Hal-hal itu saya lakukan untuk menghindari realitas yang ada atau untuk menenangkan fikiran saya yang bertentangan dengan realitas tersebut. Nah cara berfikir saya seperti itu bisa disebut menghayal, melamun, fantasi, berfikiratau disebut dengan berfikir autistik. Dengan berfikir autistik orang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar – gambar fantastis.
Selain berfikir autistik ada lagi berfikir realistik di sebut juga nalar (reasoning), ialah berfikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L Ruch menyebut 3 macam berfikir realistik yaitu: deduktif, induktif, dan evaluatif (Ruch, 1967:336). read more »